<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Covid-19 &#8211; Klinik An Nur</title>
	<atom:link href="https://annurlab.com/tag/covid-19/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://annurlab.com</link>
	<description>Mitra Kesehatan Pendukung Kesuksesan Anda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 Jan 2022 07:32:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://annurlab.com/wp-content/uploads/2020/12/Logo-annur.png</url>
	<title>Covid-19 &#8211; Klinik An Nur</title>
	<link>https://annurlab.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hasil Penelitian: Varian Omicron Cenderung Serang Tenggorakan, Bukan Paru-paru</title>
		<link>https://annurlab.com/hasil-penelitian-varian-omicron-cenderung-serang-tenggorakan-bukan-paru-paru/</link>
					<comments>https://annurlab.com/hasil-penelitian-varian-omicron-cenderung-serang-tenggorakan-bukan-paru-paru/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminofannur]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2022 07:32:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wawasan]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Omicron]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annurlab.com/?p=1583</guid>

					<description><![CDATA[Dari beberapa hasil studi yang dilakukan oleh peneliti-peneliti di luar negeri, terungkap bahwa varian baru Covid-19 yakni varian Omicron cenderung tidak merusak paru-paru. Penelitian yang menggunakan hewan sebagai sampel ini, justru menunjukkan banyak bukti bahwa Omicron lebih menginfeksi tenggorokan tidak seperti varian-varian sebelumnya yang lebih merusak paru-paru. Melansir dari laman Guardian, seorang profesor virologi di &#8230; <p class="link-more"><a href="https://annurlab.com/hasil-penelitian-varian-omicron-cenderung-serang-tenggorakan-bukan-paru-paru/" class="more-link">Continue reading<span class="screen-reader-text"> "Hasil Penelitian: Varian Omicron Cenderung Serang Tenggorakan, Bukan Paru-paru"</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dari beberapa hasil studi yang dilakukan oleh peneliti-peneliti di luar negeri, terungkap bahwa varian baru Covid-19 yakni varian Omicron cenderung tidak merusak paru-paru.</p>



<p>Penelitian yang menggunakan hewan sebagai sampel ini, justru menunjukkan banyak bukti bahwa Omicron lebih menginfeksi tenggorokan tidak seperti varian-varian sebelumnya yang lebih merusak paru-paru.</p>



<p>Melansir dari laman Guardian, seorang profesor virologi di University College London, Deenan Pillay mengatakan bahwa varian Omicron berbeda dari varian lainnya yang sudah menyebar sebelumnya.</p>



<p>&#8220;Hasil dari semua mutasi yang membuat Omicron berbeda dari varian sebelumnya adalah bahwa Omicron mungkin telah mengubah kemampuannya untuk menginfeksi berbagai jenis sel,&#8221;<br>ujarnya.</p>



<p>Lanjutnya, Omicron lebih bisa menginfeksi saluran pernapasan bagian atas, atau sel-sel di tenggorokan.</p>



<p>&#8220;Jadi itu akan berkembang biak di sana lebih mudah daripada di sel-sel yang jauh di dalam paru-paru. Ini benar-benar awal tetapi studi menunjukkan arah yang sama,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Jika virus menghasilkan lebih banyak sel di tenggorokan, maka itu membuatnya lebih mudah menular. Sebaliknya, virus yang menginfeksi jaringan paru-paru akan berpotensi lebih berbahaya tetapi kurang menular.</p>



<p>Selain itu dari percobaan lain yang menggunakan hewan sebagai sampelnya, salah satu peneliti, Prof James Stewart mengatakan bahwa Omicron menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah pada tikus.</p>



<p>Makalah dari penelitiannya bersama para ilmuwan lain juga menunjukkan, bahwa tikus yang terinfeksi Omicron kehilangan berat badan lebih sedikit, memiliki viral load (pengukuran jumlah virus) yang lebih rendah, dan mengalami pneumonia yang tidak terlalu parah.</p>



<p>&#8220;Ini salah satu bagian dari teka-teki. Model hewan menunjukkan bahwa penyakitnya tidak separah Delta dan virus asli Wuhan. Tampaknya dibersihkan lebih cepat dan hewan pulih lebih cepat, dan itu terkait dengan data klinis yang masuk,&#8221; tulis makalah itu.</p>



<p>&#8220;Indikasi awalnya adalah kabar baik, tapi itu bukan sinyal untuk lengah, karena jika Anda rentan secara klinis, konsekuensinya masih besar, ada kematian akibat Omikron. Tidak semua orang bisa melepas masker mereka dan berpesta.&#8221;</p>



<p>Penelitian di Hong Kong juga menunjukkan hasil serupa bahwa lebih sedikit infeksi Omikron yang menyerang paru-paru. Omicron memang mampu lolos dari kekebalan vaksin, namun kurang bisa memasuki sel di dalam paru-paru. <strong>***</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://annurlab.com/hasil-penelitian-varian-omicron-cenderung-serang-tenggorakan-bukan-paru-paru/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Batuk Karena Virus Influenza dan Covid-19</title>
		<link>https://annurlab.com/perbedaan-batuk-karena-virus-influenza-dan-covid-19/</link>
					<comments>https://annurlab.com/perbedaan-batuk-karena-virus-influenza-dan-covid-19/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminofannur]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2021 03:04:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wawasan]]></category>
		<category><![CDATA[batuk]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annurlab.com/?p=1579</guid>

					<description><![CDATA[Ketika musim penghujan, batuk sering kali menyerang dan lebih mudah menyebar jika dibandingkan ketika musim panas. Namun semenjak akhir tahun 2019 lalu, batuk juga menjadi salah satu gejala yang muncul Ketika seseorang terinfeksi virus corona atau Covid-19. Oleh karena itu, jika seseorang sedang mengalami batuk-batuk, pasti akan dihindari oleh orang lain. Hal ini bukan tanpa &#8230; <p class="link-more"><a href="https://annurlab.com/perbedaan-batuk-karena-virus-influenza-dan-covid-19/" class="more-link">Continue reading<span class="screen-reader-text"> "Perbedaan Batuk Karena Virus Influenza dan Covid-19"</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika musim penghujan, batuk sering kali menyerang dan lebih mudah menyebar jika dibandingkan ketika musim panas.</p>



<p>Namun semenjak akhir tahun 2019 lalu, batuk juga menjadi salah satu gejala yang muncul Ketika seseorang terinfeksi virus corona atau Covid-19. Oleh karena itu, jika seseorang sedang mengalami batuk-batuk, pasti akan dihindari oleh orang lain.</p>



<p>Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya batuk yang disebabkan virus influenza atau rhinovirus ini memang sangat mirip dengan batuk yang menjadi gejala Covid-19.</p>



<p>Walaupun sekilas terlihat mirip, ternyata terdapat sedikit perbedaan di antara keduanya. Nah, agar Anda tidak keliru, penting untuk mengenali karakteristik dari batuk biasa dan batuk Covid-19.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Perbedaan Batuk Biasa dan Batuk Gejala COVID-19</strong></h4>



<p>Berikut ini adalah perbedaan batuk biasa dan batuk gejala Covid-19 berdasarkan penyebab dan komplikasi yang dapat ditimbulkan:</p>



<p><strong>Berdasarkan Gejala</strong></p>



<p>Batuk flu biasanya baru muncul selama 1–3 hari setelah seseorang terpapar virus. Batuk yang terjadi karena virus influenza ataupun rhinovirus ini dapat berupa batuk kering dan juga batuk berdahak.</p>



<p>Berbeda halnya dengan batuk gejala Covid-19 yang terjadi sekitar 2–14 hari setelah seseorang terpapar virus. Biasanya batuk sebagai gejala Covid-19 ini berupa batuk kering yang disertai dengan rasa sesak saat bernafas dan kehilangan indera penciuman.</p>



<p>Walau berbeda, cara penularan kedua batuk ini tetap sama, yaitu melalui udara, percikan liur dan ingus (droplet), dan kontak fisik dengan orang yang sakit.</p>



<p><strong>Berdasarkan komplikasi yang dapat ditimbulkan</strong></p>



<p>Batuk biasa akibat flu dapat sembuh dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu.</p>



<p>Namun, bila batuk yang Anda derita telah berlangsung lebih dari 3 minggu, batuk tersebut sudah dikategorikan sebagai batuk kronis. Batuk yang lama sembuh ini lebih sering terjadi pada penderita asma, COPD, atau sinusitis.</p>



<p>Jika tidak diobati dengan baik, flu yang menyebabkan batuk biasa terkadang bisa menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti pneumonia.</p>



<p>Sementara itu, Covid-19 yang menimbulkan gejala batuk juga berpotensi menimbulkan komplikasi berupa pneumonia dan ARDS.</p>



<p>Namun, risiko terjadinya komplikasi tersebut lebih tinggi pada penderita yang belum mendapatkan vaksin Covid-19, memiliki penyakit komorbid, atau berusia lanjut.</p>



<p>Pada kasus tertentu, Covid-19 juga bisa menyebabkan gejala atau masalah kesehatan yang berlangsung lama, bahkan setelah infeksinya sembuh, seperti anosmia, parosmia, dan long-haul Covid-19. </p>



<p>Setelah mengerti tentang perbedaan diatas, ada baiknya untuk mencermati setiap gejala batuk yang Anda rasakan. </p>



<p>Jika terdapat indikasi terinfeksi Covid-19, Anda dapat memeriksakan kondisi Anda di klinik kesehatan terdekat atau hubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut. <strong>***</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://annurlab.com/perbedaan-batuk-karena-virus-influenza-dan-covid-19/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Serba-serbi Virus Varian Omicron</title>
		<link>https://annurlab.com/serba-serbi-virus-varian-omicron/</link>
					<comments>https://annurlab.com/serba-serbi-virus-varian-omicron/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminofannur]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2021 07:13:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wawasan]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Omicron]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annurlab.com/?p=1569</guid>

					<description><![CDATA[Virus SARS-CoV-2 atau yang lebih sering disebut Covid-19 hingga kini masih terus bermutasi. Mutasi terbaru dan yang tengah banyak dibicarakan yakni varian Omicron yang muncul pertamakali di Afrika Selatan. Virus yang dinamakan B.1.1.529 Omicron ini, telah diklasifikasikan sebagai Variant of Concern (VOC) oleh WHO. Dari data yang diperoleh di Afrika Selatan, Omicron terindikasi menyebar jauh &#8230; <p class="link-more"><a href="https://annurlab.com/serba-serbi-virus-varian-omicron/" class="more-link">Continue reading<span class="screen-reader-text"> "Serba-serbi Virus Varian Omicron"</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Virus SARS-CoV-2 atau yang lebih sering disebut Covid-19 hingga kini masih terus bermutasi.</p>



<p>Mutasi terbaru dan yang tengah banyak dibicarakan yakni varian Omicron yang muncul pertamakali di Afrika Selatan.</p>



<p>Virus yang dinamakan B.1.1.529 Omicron ini, telah diklasifikasikan sebagai Variant of Concern (VOC) oleh WHO.</p>



<p>Dari data yang diperoleh di Afrika Selatan, Omicron terindikasi menyebar jauh lebih cepat daripada jenis mutasi sebelumnya.</p>



<p>Namun hingga kini dampak buruk yang ditimbulkan terkait dengan keparahan penyakit ataupun peningkatan angka kematian akibat varian Omicron belum dapat disimpulkan.</p>



<h5 class="wp-block-heading">Penyebaran di Inonesia?</h5>



<p>Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut virus corona (Covid-19) varian omicron hingga saat ini masih belum ditemukan di Indonesia.</p>



<p>Hal ini disampaikannya sesuai dengan data yang berhasil dihimpun dari hasil tes yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).</p>



<p>Kendati demikian, pemerintah akan terus waspada untuk mengantisipasi masuknya varian baru Covid-19 tersebut.</p>



<p>&#8220;Sampai dengan hari ini berdasarkan informasi yang diberikan oleh Kemenkes dari hasil genome sequencing yang terus dilakukan, tidak ditemukan adanya temuan kasus varian Omicron di Indonesia,&#8221; ujar Luhut saat konferensi pers, Selasa (14/12).</p>



<h5 class="wp-block-heading">Infeksi dan Penyebaran</h5>



<p><strong>• Seberapa mudah Omicron menyebar?</strong></p>



<p>Varian Omicron kemungkinan akan menyebar lebih mudah daripada virus SARS-CoV-2 asli dan seberapa mudah Omicron menyebar dibandingkan dengan Delta masih belum diketahui.</p>



<p><strong>• Akankah Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah?</strong></p>



<p>Lebih banyak data masih diperlukan untuk mengetahui apakah infeksi Omicron, dan terutama infeksi ulang dan infeksi terobosan pada orang yang sepenuhnya divaksinasi, menyebabkan penyakit atau kematian yang lebih parah daripada infeksi dengan varian lain.</p>



<p><strong>• Akankah vaksin bekerja melawan Omicron?</strong></p>



<p>Vaksin saat ini diharapkan dapat melindungi terhadap penyakit parah, rawat inap, dan kematian akibat infeksi dengan varian Omicron.</p>



<p>Namun, infeksi terobosan pada orang yang sepenuhnya divaksinasi kemungkinan akan terjadi. Dengan varian lain, seperti Delta, vaksin tetap efektif dalam mencegah penyakit parah, rawat inap, dan kematian. Munculnya Omicron baru-baru ini lebih lanjut menekankan pentingnya vaksinasi dan booster.</p>



<p><strong>• Akankah perawatan bekerja melawan Omicron?</strong></p>



<p>Para ilmuwan sedang bekerja untuk menentukan seberapa baik perawatan yang ada untuk Covid-19 bekerja. Berdasarkan perubahan susunan genetik Omicron, beberapa perawatan cenderung tetap efektif sementara yang lain mungkin kurang efektif.</p>



<p><strong>***</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://annurlab.com/serba-serbi-virus-varian-omicron/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sudah Ikuti Vaksinasi Covid-19, Hati-hati Tetap ada Peluang Terpapar Virus</title>
		<link>https://annurlab.com/sudah-ikuti-vaksinasi-covid-19-hati-hati-tetap-ada-peluang-terpapar-virus/</link>
					<comments>https://annurlab.com/sudah-ikuti-vaksinasi-covid-19-hati-hati-tetap-ada-peluang-terpapar-virus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminofannur]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2021 11:06:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wawasan]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[vaksinasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annurlab.com/?p=1498</guid>

					<description><![CDATA[Pemberian vaksin Covid-19 bagi masyarakat kini semakin gencar dilakukan oleh pemerintah. Bahkan kini warga berusia 18 tahun keatas sudah dapat menerima vaksin Covid-19 dengan syarat membawa dua orang yang berusia lebih dari 50 tahun untuk menjalani vaksinasi Covid-19. Lebih lanjut, hingga saat ini, dilaporkan bahwa sudah 23 juta orang yang telah menerima vaksinasi Covid-19 dosis &#8230; <p class="link-more"><a href="https://annurlab.com/sudah-ikuti-vaksinasi-covid-19-hati-hati-tetap-ada-peluang-terpapar-virus/" class="more-link">Continue reading<span class="screen-reader-text"> "Sudah Ikuti Vaksinasi Covid-19, Hati-hati Tetap ada Peluang Terpapar Virus"</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pemberian vaksin Covid-19 bagi masyarakat kini semakin gencar dilakukan oleh pemerintah. Bahkan kini warga berusia 18 tahun keatas sudah dapat menerima vaksin Covid-19 dengan syarat membawa dua orang yang berusia lebih dari 50 tahun untuk menjalani vaksinasi Covid-19.</p>



<p>Lebih lanjut, hingga saat ini, dilaporkan bahwa sudah 23 juta orang yang telah menerima vaksinasi Covid-19 dosis pertama.</p>



<p>Hal ini tentunya menjadi kabar yang menggembirakan karena banyak orang yang percaya bahwa pandemi Covid-19 bakal berakhir.</p>



<p>Namun tunggu dulu, ternyata walaupun sudah diberikan vaksin Covid-19, seseorang tidak serta merta terbebas dari ancaman virus yang mulai merebak di wilayah Wuhan, China.</p>



<p>Menurut para pakar, sebenarnya tidak ada vaksin yang 100 persen efektif untuk mencegah penyakit (baik COVID-19 atau penyakit lainnya).</p>



<p>Pada Desember 2020, Moderna mengatakan pihaknya sudah menyerahkan data vaksin virus corona ke Food and Drug Administration (FDA) AS. Data tersebut menunjukkan vaksinnya mampu mencegah 2/3 dari semua infeksi, termasuk infeksi tanpa gejala.</p>



<p>Nah, itulah sebabnya Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang merupakan lembaga yang menangani wabah penyakit di Amerika Serikat, mengatakan agar masyarakat tidak berasumsi bahwa mereka sepenuhnya kebal setelah divaksinasi.</p>



<p>Meski vaksin dapat memberikan perlindungan hingga mencapai 95 persen dalam uji klinis, tapi masih ada kemungkinan sejumlah kecil orang masih bisa tertular virus corona. Bahkan, setelah menerima dua suntikan vaksin Covid-19.</p>



<p>Selain itu, hingga saat ini masih belum ada yang mengerti seberapa lama vaksin Covid-19 akan bertahan dalam tubuh manusia.</p>



<p>Pasalnya perlindungan yang diberikan oleh vaksin dapat memudar seiring bergulirnya waktu. Itulah sebabnya beberapa vaksin memerlukan suntikan penguat bertahun-tahun kemudian.</p>



<p>Yuk tetap upayakan kesehatan bersama dengan selalu memakai masker saat beraktivitas, mencuci tangan dan menjaga jarak agar potensi penyebaran pandemi Covid-19 dapat semakin mengengecil. *</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://annurlab.com/sudah-ikuti-vaksinasi-covid-19-hati-hati-tetap-ada-peluang-terpapar-virus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Mutasi Virus dan Penyebabnya</title>
		<link>https://annurlab.com/mengenal-mutasi-virus-dan-penyebabnya/</link>
					<comments>https://annurlab.com/mengenal-mutasi-virus-dan-penyebabnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminofannur]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 07:00:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wawasan]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[mutasi]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annurlab.com/?p=1469</guid>

					<description><![CDATA[Pandemi Covid-19 hingga saat ini masih belum selesai. Penyebaran penyakit yang ditimbulkan akibat virus SARS-CoV-2 ini masih banyak terjadi tak terkecuali di Indonesia. Menurut laporan terakhir yang diambil dari covid19.go.id, Kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga saat ini mencapai 1.651.794 dengan total pasien sembuh 1.506.599, lalu pasien meninggal 44.939 orang. Adapun rata-rata penambahan harian di &#8230; <p class="link-more"><a href="https://annurlab.com/mengenal-mutasi-virus-dan-penyebabnya/" class="more-link">Continue reading<span class="screen-reader-text"> "Mengenal Mutasi Virus dan Penyebabnya"</span></a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pandemi Covid-19 hingga saat ini masih belum selesai. Penyebaran penyakit yang ditimbulkan akibat virus SARS-CoV-2 ini masih banyak terjadi tak terkecuali di Indonesia.</p>



<p>Menurut laporan terakhir yang diambil dari covid19.go.id, Kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga saat ini mencapai 1.651.794 dengan total pasien sembuh 1.506.599, lalu pasien meninggal 44.939 orang. Adapun rata-rata penambahan harian di Indonesia kini masih berada di kisaran 5.405 kasus per hari.</p>



<p>Namun sayangnya, pandemi Covid-19 kini sudah tidak terlalu dihiraukan lagi oleh masyarakat. Sebagian orang sudah acuh tak acuh dengan virus ini, buktinya kini keramaian-keramaian di beberapa titik sudah mulai bermunculan kembali.</p>



<p>Hal-hal seperti ini sebenarnya dapat memicu terjadinya kasus-kasus baru, seperti yang tejadi di Negara India yang baru-baru ini mengalami penambahan kasus yang luar biasa tinggi dengan rata-rata 300 ribu kasus per hari.</p>



<p>Selain karena kelaian menerapkan protokol kesehatan, kasus di India sedikit banyak juga dipenagruhi oleh faktor mutasi virus SARS-CoV-2. Mutasi virus corona ini disinyalir lebih ganas dan lebih mudah menular.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa itu mutasi virus dan bagaimana bisa terjadi?</h2>



<p>Virus bertahan hidup dengan cara menempel pada sel inang. Selama berada di dalam tubuh manusia atau hewan yang menjadi inangnya, virus akan terus berkembang biak dengan menyalurkan materi genetik, baik RNA maupun DNA, ke sel sehat dalam tubuh inangnya.</p>



<p>Pada saat materi genetik virus ini masuk ke dalam sel inang, virus akan menguasai dan merusak sel tersebut. Namun pada manusia, proses ini bisa dihambat oleh sistem kekebalan tubuh atau imun tubuh.</p>



<p>Oleh sebab itu, untuk dapat bertahan hidup virus harus beradaptasi. Adaptasi yang dimaksud ini yakni dengan selalu bermutasi atau berubah menjadi bentuk yang lebih baru untuk dapat mengelabui sistem kekebalan tubuh inangnya.</p>



<p>Setelah virus bermutasi, sistem kekebalan tubuh akan lebih sulit mengenali virus sehingga virus dapat tetap bertahan dan menyerang sel inangnya.</p>



<p>Selain berpengaruh terhadap sistim imun, proses mutasi virus yang terjadi ternyata juga dapat membuat virus semakin kuat dan lebih mudah berkembang biak.</p>



<p>Salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus adalah Covid-19. Virus Corona penyebab penyakit Covid-19 merupakan jenis virus RNA. Jika dibandingkan virus DNA, virus RNA memang cenderung lebih cepat bermutasi.</p>



<p>Selama beberapa bulan terakhir, virus Corona yang muncul di akhir tahun 2019 diketahui telah mengalami mutasi banyak mutasi seperti halnya yang terjadi di India dan yang baru-baru ini mulai ditemukan di Indonesia. *</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://annurlab.com/mengenal-mutasi-virus-dan-penyebabnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
